Postingan

y o u - 1

#1 There were many things that I wished to talk to you, only if you would let me. But I know you won’t and that’s okay. There were many things that I wished to show you, only if you would let me. But I know you won’t and that’s okay. There were many things that I wished to listen to—your voice, your stories, your days—only if you would let me. But I know you won’t and that’s okay. There were many things that I wished to do together with you, only if you would let me. But I know you won’t and that’s okay. I’ve tried to reach you. I’ve summoned all of the courage I got. I’ve gathered all of my sorry and apologies. There were many things that I want and one of them was for you to read the letter that I gave you with all my heart. But of course, I know you won’t and that’s okay. You won’t even believe me if I say that I’ve been dreaming about you frequently these days. It was kind of a strange experience. Because even 3 years ago —when we were still together, I never dreamed about you th...

k a m u - 5

#5 I’ve been working on this story ever since I was in junior high, but now I’ve graduated from high school, I finally got accepted in uni, and I don’t think I could continue this story the way I started it. Anyway, pardon my grammar. It was kinda hard for me to write this in Bahasa, it would hit me too close to home, therefore why was writing this story in English felt way much easier, just because. How many years exactly have passed since I first met you? Five? Six? Probably six because it was around 2015 when you first move out to my school. I never really asked why did you move from there, though, but now I’m curious. So why? Oh, I wish, I wish so much that maybe, just maybe you would read this story and see how cringy I was back then – I still am actually when you were involved. Have you ever thought about how could you affect my life this much? You haven’t? You probably haven’t, but yeah, please start asking yourself this question every single night because I’d like to know the a...

k a m u - 4

#4 Ingatkah kamu, suatu hari dulu sekali aku pernah berkata bahwa kamu adalah sahabat terbaikku? Sejujurnya, aku juga tidak tahu apakah kamu menganggapku sama seperti sebagaimana aku menganggapmu. Aku menyadari bahwa dulu aku memang seegois itu. Aku memaksakan kehadiranku kepadamu yang mungkin sama sekali tidak menginginkan keberadaanku dalam kehidupanmu. Yah, lagipula semua itu sudah berlalu. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah bercerita kepadamu meskipun aku tidak tahu apakah kamu membaca semua omong kosong yang kutulis disini. Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan padamu secara langsung, dan tentu saja pada akhirnya tidak bisa karena seperti yang sudah kamu duga, aku terlalu takut. Itulah kenapa aku memutuskan untuk menulis semuanya disini, segala hal yang tidak bisa aku katakan kepadamu karena sifat pengecutku itu. Jika saja aku lebih berani, mungkin saat ini aku masih bisa berbicara denganmu sesering dulu kamu dan aku berbagi cerita yang tiada habisnya. Aku ...

k a m u - 3

#3 Kamu tahu, bahwa selama apapun aku memendamnya, nyatanya rasa itu masih tetap ada. Perasaan bergejolak ketika mata kita bertemu. Perasaan hangat ketika mendengar tawamu dari jauh. Perasaan sesak di malam hari ketika hatiku begitu merindukanmu. Perasaan-perasaan itu masih ada dan tetap menetap disana. Termasuk rasa sakit ketika kamu yang kucintai   kian menjauh ketika tahu tentang perasaanku.   Jadi seperti ini   rasanya, Sakit karena cinta. Begitu pikirku waktu itu. Tapi bukannya berhenti, bodohnya aku karena perasaanku yang sudah terlanjur tertangkap basah, aku malah semakin gencar menunjukkan rasa sukaku itu. Aku selalu menunjukkannya tanpa ragu. Tanpa berpikir terlebih dahulu hingga mungkin kamu semakin risih dan semakin menjauh hingga tak terjangkau oleh hatiku. Dan lihat apa yang terjadi pada ku sekarang. Tidak ada yang tersisa untukku selain kenangan kenanganku akan kamu. Tidak ada lagi yang tersisa untukku selain perasaanku yang sudah memen...

k a m u - 2

#2 Pernahkah aku katakan pada mereka bahwa tidak akan ada ‘kita’ di antara kamu dan aku. Bagaimana menjelaskannya ya. Sekarang aku sedang duduk di atas bangku, mendengarkan lagu bergenre ballad asal negeri ginseng sana. Bodohnya aku, aku duduk sendirian, menuliskan sesuatu yang berbau kamu, ditemani lagu yang cocok sekali untuk didengarkan oleh seorang yang patah hati. Aku tidak patah hati. Hati ku terjatuh dengan lembut padamu. Rasanya seperti terjatuh diatas marshmello yang siap menelanku kapan saja saking lembutnya. Aku mensyukuri apapun yang pernah terjadi di masa masa dahulu antara kamu dan aku. Meskipun sesuatu itu bukanlah sesuatu yang besar, tetap saja aku bersyukur. Aku berusaha berandai-andai jika dulu orangtuamu tidak memindahkan dirimu ke sekolah tempat ku menuntut ilmu, apa yang akan terjadi? Mungkinkah aku memiliki seseorang yang sudah menggandeng tanganku sekarang, atau mungkin aku malah mendamba-damba hati yang lain? Ya sudahlah. Nyatanya, sekarang ...

k a m u - 1

#1 Kamu pernah bercerita tentang mimpi-mimpimu. Tentang cita-cita dan begitu banyak harapanmu.  Kamu pernah berkata bahwa aku satu-satunya pendengar setiamu. Seseorang yang katamu rela mendengarkan keluh kesahmu sepanjang waktu. Ya, meskipun aku tidak mau mengakuinya, kebenaran kata-katamu menohok hatiku. Waktu itu, di pagi hari disertai awan kelabu. Aku pertama kali bertemu kamu. Aku melihatmu di sana. Mata kita sempat bertaut saat itu. Sebentar. Hanya sebentar. Lalu kamu kembali sibuk dengan teman teman sebayamu. Entah apa yang kamu bicarakan saat itu, aku tidak tahu. Dan mungkin saat itu juga aku memang tidak ingin tahu. Tidak ada bagian dirimu yang dapat  menarik hatiku saat itu. setelah melihatmu, aku melengos pergi tanpa ada niat ingin menoleh padamu lagi. Tapi tidak, bukan benci yang kurasa saat itu atau mungkin perasaan apapun yang mungkin kau sangka-sangka dariku. Aku takut. Keberadaanmu membuatku takut. Aku baru saja terjatuh pada orang yang salah. Lal...