k a m u - 4


#4

Ingatkah kamu, suatu hari dulu sekali aku pernah berkata bahwa kamu adalah sahabat terbaikku? Sejujurnya, aku juga tidak tahu apakah kamu menganggapku sama seperti sebagaimana aku menganggapmu. Aku menyadari bahwa dulu aku memang seegois itu. Aku memaksakan kehadiranku kepadamu yang mungkin sama sekali tidak menginginkan keberadaanku dalam kehidupanmu. Yah, lagipula semua itu sudah berlalu. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah bercerita kepadamu meskipun aku tidak tahu apakah kamu membaca semua omong kosong yang kutulis disini.

Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan padamu secara langsung, dan tentu saja pada akhirnya tidak bisa karena seperti yang sudah kamu duga, aku terlalu takut. Itulah kenapa aku memutuskan untuk menulis semuanya disini, segala hal yang tidak bisa aku katakan kepadamu karena sifat pengecutku itu. Jika saja aku lebih berani, mungkin saat ini aku masih bisa berbicara denganmu sesering dulu kamu dan aku berbagi cerita yang tiada habisnya.

Aku ingat betapa bahagianya aku setiap kali kamu dan aku disatukan dalam suatu kelompok kerja. Tidak masalah tugas yang diberikan sulit ataupun mudah, yang aku pedulikan hanyalah fakta bahwa kamu dan aku memiliki lebih banyak waktu untuk bersama-sama.

Yang paling berkesan bagiku adalah suatu waktu kamu dan aku berada dalam kelompok untuk mata pelajaran ilmu pengetahuan alam. Karena pemilihan kelompoknya diundi maka aku diam-diam berdoa di dalam hatiku semoga kamu dan aku berada dalam kelompok yang sama. Dewi keberuntungan sedang tersenyum padaku saat itu karena kamu memang berada dalam kelompok yang sama denganku, sungguh bahkan hingga saat ini pun aku masih tersenyum mengenang masa-masa itu.

Karena nyatanya setiap detik yang ku lalui bersamamu,

Begitu berarti bagiku.

Seperti yang sudah dirundingkan, hari xx tanggal xx jam xx, kita akan mengerjakan tugas kelompok itu di rumah temanku. Hari itu kebetulan aku tiba lebih dulu darimu, sebenarnya aku memang yang paling pertama tiba karena aku tidak sabar ingin segera bertemu kamu. Yang kuperhatikan saat itu hanyalah pintu yang berulang kali terbuka dan tertutup tapi kehadiranmu tak terlihat juga. Aku terus-terusan menanyakan keberadaan dirimu di dalam kepalaku, bertanya-tanya apakah kamu memang sengaja menghindariku atau sesuatu yang mendesak mungkin saja terjadi padamu. Tapi semua dugaanku salah. Saat itu, tepat ketika aku sudah putus asa untuk melihatmu, kamu muncul di depan mataku.

Kamu muncul dengan baju bola kesukaanmu, celana pendek selutut, dan senyum khasmu yang tidak pernah pudar dari wajahmu itu. Ah, sekarang karena aku menyebutkan tentang senyuman mu, aku jadi ingat betapa aku menyukai senyummu itu. Seandainya saja senyuman itu bisa terukir lagi untukku.

“Sorry telat, tadi gue salah masuk rumah orang”

Begitu katamu waktu itu. Seandainya kamu tahu betapa konyol nya kalimat itu terdengar di telingaku dan betapa polosnya caramu mengucapkan semua itu, kamu pasti akan tertawa tiada henti.

Bagaimanapun juga semua cerita itu ada di masa lalu. Di tahun ketiga sekolah menengah pertama ini, mustahil bagiku untuk mengharapkan senyum itu terlukis lagi untukku. Nyatanya senyum itu sudah menjadi milik seseorang dan seseorang itu bukanlah aku. Iya, karena kamu dan dia rupanya telah menjalin hubungan yang bukanlah sekedar pertemanan, maka seharusnya aku mulai melupakanmu, bukan?

Tapi tentu saja itu tidak ku lakukan.


Tentu saja aku masih menunggumu seperti biasa.


Aku memang sebodoh ini jika menyangkut apa-apa yang tentang dirimu.

Komentar