k a m u - 1
#1
Kamu pernah bercerita tentang mimpi-mimpimu. Tentang
cita-cita dan begitu banyak harapanmu.
Kamu pernah berkata bahwa aku
satu-satunya pendengar setiamu. Seseorang yang katamu rela mendengarkan keluh
kesahmu sepanjang waktu. Ya, meskipun aku tidak mau mengakuinya, kebenaran
kata-katamu menohok hatiku.
Waktu itu, di pagi hari disertai awan kelabu. Aku
pertama kali bertemu kamu. Aku melihatmu di sana. Mata kita sempat bertaut saat
itu. Sebentar. Hanya sebentar. Lalu kamu kembali sibuk dengan teman teman sebayamu.
Entah apa yang kamu bicarakan saat itu, aku tidak tahu. Dan mungkin saat itu
juga aku memang tidak ingin tahu. Tidak ada bagian dirimu yang dapat menarik hatiku saat itu. setelah melihatmu,
aku melengos pergi tanpa ada niat ingin menoleh padamu lagi.
Tapi tidak, bukan benci yang kurasa saat itu atau
mungkin perasaan apapun yang mungkin kau sangka-sangka dariku. Aku takut.
Keberadaanmu membuatku takut. Aku baru saja terjatuh pada orang yang salah.
Lalu kamu muncul dan itu membuatku takut. Meski tidak ada hal menarik darimu
saat itu, rasanya itu hanya bentuk keengganan naluriahku.
Aku tidak percaya cinta pada pandangan pertama.
Bagiku itu hanya kiasan yang kekanak-kanakan. Karena cinta tidak bisa tumbuh
secepat itu. semuanya memiliki tahapan dan proses. Kagum, suka, sayang, baru
cinta, itu yang aku percayai selama ini. Dan yaaa, mungkin perasaan yang ada
saat itu adalah tahap pertama dari kepercayaanku. Atau anggap saja begini, jika
memang yang kurasakan saat pertama kali adalah cinta, maka aku tidak mau
mengakuinya.
Jatuh cinta terlalu cepat bagiku adalah suatu bentuk
penghinaan terhadap rasa itu sendiri. Karena perasaan itu sakral dan bagiku
tidak bisa ditujukan seenaknya pada sembarang orang. Harus selalu ada
pertimbangan yang matang dan pemikiran jangka panjang. Ya, meskipun aku tahu
yang sedang kuceritakan pada kalian saat ini adalah cinta yang dimiliki seorang
anak smp biasa.
Ini hanya kisah lama. Kisah ku sendiri. Ceritaku
sendiri.
Cukup. Aku sudah melantur.
Intinya adalah mungkin meski saat itu aku tidak tahu
menahu tentang apa tepatnya yang kurasakan saat itu, tapi aku ingin kamu tahu
tentang ini, bahwa perasaan apapun itu
aku cukup sadar bahwa jika aku melanjutkannya aku akan jatuh terlalu dalam
padamu. Tersesat begitu jauh. Terjebak di sudut-sudut relung hatiku.
Bodohnya aku, meskipun saat itu aku sudah tahu, aku
memilih untuk tidak peduli. Aku dengan bodohnya mengabaikan hal hal yang sudah
aku sadari dan malah mencoba untuk mengenalmu.
Aku berusaha untuk tidak mencolok. Berbicara
denganmu, berusaha untuk tidak menarik perhatianmu, lalu melontarkan pertanyaan
seperti orang-orang normal lainnya. Bukan berarti aku tidak normal, tapi aku
tidak sepenuhnya normal saat itu, aku sedang dipenuhi oleh kenekatan yang tidak
bisa dipahami oleh logikaku.
Beberapa minggu selanjutnya terus seperti itu. Kita,
kamu dan aku, menjadi dekat. Aku mengetahui beberapa hal yang orang lain tidak
ketahui. Membuatku merasa spesial karena kamu memang hanya menceritakannya
padaku. Jadi, dapat kamu simpulkan bahwa entah sejak kapan, aku akhirnya
menjatuhkan hatiku padamu.
Anggap saja kamu istimewa karenanya. Sebab sejak
awal aku sudah tahu bahwa kamu dan aku tidak akan pernah berjalan semulus
dugaanku. Sejak awal aku sudah tahu, bahwa ‘kita’ mungkin saja tidak pernah
ada. Karena kamu dan aku begitu berbeda.
Hingga pada akhirnya desas-desus tentang pujaan
hatimu muncul. Apa, kamu berpikir bahwa aku berharap perempuan itu aku? Ya,
awalnya memang begitu. Aku menyukaimu, jelas. Mengetahui tentang kamu lebih
banyak dari sebagian besar orang saat itu. Jadi bukankah wajar aku berharap
lebih?
Tapi tidak, harapanku tidak tumbuh sebesar yang kamu
bayangkan. Aku sadar mungkin aku tidak secantik tipemu, atau mungkin tidak
berperilaku seperti keinginanmu. Dan aku dengan keras kepala mempertahankan
pendirianku, tidak ingin berubah hanya karena seseorang. Maka segera kubunuh
bibit-bibit harapan itu sebelum mereka yang membunuhku.
Ditambah lagi pada saat itu, bukan aku saja yang
menyukaimu. Sahabatku. Salah. Sahabat Dekatku juga menyukaimu. Maka aku tidak
punya pilihan selain diam. Menyimpan perasaanku seorang diri. Aku munafik?
Tidak, aku bukannya munafik. Tidak juga bisa dikatakan bahwa aku tidak munafik.
Aku ingin menjaga persahabatanku karena sahabat lebih dari segalanya. Namun,
jika memang nanti kamu memilihku maka aku akan menerimamu. Aku tidak akan
berpura-pura mengalah pada sahabatku itu.
Tapi nyatanya, bukan aku ataupun sahabatku itu yang
merupakan pujaan hatimu. Melainkan seseorang dari kelas seberang. Aku
memperhatikan caramu melihatnya. Kamu tidak bisa berpura-pura di depan orang
yang kamu sukai, aku tau itu. kamu tidak sehebat diriku. Maka jelas sudah bahwa
kamu menyukai gadis berkulit putih itu.
Aku cemburu? Ya. Sakit hati? Ya. Tapi apa hakku,
tidak ada kan. Maka aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Cukup beruntung bagiku
bahwa kamu tidak begitu suka menjalin cinta dengan cara diumbar-umbar. Dengan
begitu sakit hatiku tidak berlipat ganda.
Begitu hari-hari ku setelahnya. Aku tidak menyerah
mencintaimu. Aku menunggu. Terus menunggu jika mungkin saja hubunganmu dengan
perempuan itu kandas. Terus menunggu hingga mungkin saja tiba kesempatan bagiku
untuk hadir lebih jauh di dalam hatimu. Itu harapan terbesarku kala itu.
Mencintaimu;
Dicintai olehmu;
Dan selalu begitu, selamanya.
Namun tidak semudah dugaanku bukan?
Komentar
Posting Komentar