k a m u - 2
#2
Pernahkah aku katakan pada mereka bahwa tidak akan ada
‘kita’ di antara kamu dan aku. Bagaimana menjelaskannya ya. Sekarang aku sedang
duduk di atas bangku, mendengarkan lagu bergenre ballad asal negeri ginseng
sana. Bodohnya aku, aku duduk sendirian, menuliskan sesuatu yang berbau kamu,
ditemani lagu yang cocok sekali untuk didengarkan oleh seorang yang patah hati.
Aku tidak patah hati. Hati ku terjatuh dengan lembut
padamu. Rasanya seperti terjatuh diatas marshmello yang siap menelanku kapan
saja saking lembutnya. Aku mensyukuri apapun yang pernah terjadi di masa masa
dahulu antara kamu dan aku. Meskipun sesuatu itu bukanlah sesuatu yang besar, tetap
saja aku bersyukur.
Aku berusaha berandai-andai jika dulu orangtuamu tidak
memindahkan dirimu ke sekolah tempat ku menuntut ilmu, apa yang akan terjadi?
Mungkinkah aku memiliki seseorang yang sudah menggandeng tanganku sekarang,
atau mungkin aku malah mendamba-damba hati yang lain?
Ya sudahlah.
Nyatanya, sekarang hatiku masih terjatuh padamu.
Hai hatiku! Bagaimana kabarmu disana? Apakah dia
sedang ada di dekatmu? Jika iya sampaikan padanya bahwa aku rindu. Masih sangat
rindu hingga rasanya menyesakkan. Ingin kumuntahkan saja rasanya semua rindu
ini.
Belum lama ini aku membuat suatu perumpamaan tentang
kamu dan aku juga dia. Bagaimana perumpamaannya ya? Ah iya aku ingat!
Dahulu
awan dan hujan hidup bahagia. Awan tidak bisa berpisah dari sang hujan. Mereka Bersama
membentuk awan mendung. Tapi jangan salah, awan yang mendung adalah awan yang
bahagia. Mengapa? Karena itu artinya sang awan dan sang hujan sedang Bersama.
Tapi suatu hari, hujan menyadari, dari ketinggian semua terlihat sangat indah
dan berkilau. Hujan melayangkan pandangannya pada laut. Indah, tapi semuanya
berwarna biru. Lalu hujan menolehkan pandangannya pada daratan. Ia terpaku disana,
begitu cantik sang daratan dengan berbagai warna. Mahkota mahkotanya yang
terbuat dari kaca gedung gedung pencakar langit dan hutan yang begitu hijau
membuat sang hujan terpana akan keindahannya.
Tanpa
pikir Panjang, hujan segera saja menjatuhkan dirinya pada sang daratan. Hal ini,
seperti yang kamu tahu akan membuat awan menghilang. Ketika hujan turun, maka awan
mendung akan digantikan oleh langit cerah yang bersih tanpa satupun awan yang
terlihat.
Bagaimana? Agak aneh memang. Tapi aku tidak mau memberitahumu
menjadi siapakah kamu disitu, atau siapakah aku menggambarkan diriku sendiri
disitu. Biar saja kamu tebak sendiri. Biar kamu kesal sekalian, hahaha.
Aku rindu wajah kesalmu itu. Aku rindu suaramu. Aku
rindu kamu memanggil namaku. Aku rindu caramu berbicara padaku. Aku rindu
semuanya. Ibu selalu berkata padaku, jangan pernah menunjukkan perasaanmu pada
lelaki biarkan mereka yang menunjukkan bagaimana perasaan mereka terhadapmu.
Sepertinya hukum yang berlaku bahwa perempuan harus menunggu lelaki menyatakan
perasaan itu sudah dianut sejak dahulu sekali ya.
Biar kuberitahu. Kamu adalah satu satunya orang yang
begitu lama menetap dipikiranku. Sudah berapa lama ya, cukup lama hingga aku
bisa menceritakan kisah ini dalam seratus chapter
jika aku mau.
Menjatuhkan hatiku padamu bukanlah hal yang mudah. Aku
sebenarnya tidak begitu menyadari kapan tepatnya aku ‘jatuh’ padamu. Pokoknya,
sebelum aku ‘jatuh’ padamu, aku baru saja terjatuh pada orang yang menurutku sangat
salah. Hubungan ku dengan nya pun tidak ku dasari oleh rasa apa apa, pun itu
berlangsung dengan sangat singkat.
Karena itulah aku takut terjatuh padamu. Aku takut
bahwa perasaan ku ini hanya sementara. Tapi setelah hal itu terjadi, yang
kurasakan adalah perasaan nyaman. Aku merasa nyaman telah menemukan tempat ku untuk
mendambai sesuatu. Aku bersyukur bahwa itu adalah kamu. Apapun kejahatan yang
telah kamu katakana padaku dulu, aku tidak peduli. Yang ada dipikiranku saat itu
hanya sesederhana ini :
Ternyata begini ya rasanya
Atau
Seberapa lama perasaan ini akan bertahan
Aku bahkan tidak pernah memikirkan tentang menjalin
hubungan atau apapun. Aku nyaman dengan sebagaimana adanya keadaan ku. Awalnya
memang sulit. Rasanya disitulah letak kebodohanku. Sebagai seorang bocah aku merasa
bodoh karena meminta terlalu banyak padamu. Menuntut sesuatu yang tidak pantas
untuk dituntut. Memihak sesuatu yang sebenernya tidak perlu dipihak.
Tapi, lama kelamaan aku berpikir seperti jika memang
begini biarkan saja. Aku tidak pernah mencoba untuk menghilangkan perasaan itu
lagi. Rasanya semua yang berhubungan denganmu sudah menyatu begitu saja
denganku. Ketika namamu disebut, aku ikut menoleh. Ketika ada yang membicarakan
kebaikan mu, aku ikut tersenyum. Ketika mereka membicarakan kejelekanmu
dibelakangmu, rasanya aku ingin sekali mewakili dirimu untuk memukul wajah
mereka semua satu persatu.
Bulan demi bulan berganti. Aku dan kamu mulai
disibukkan dengan kegiatan sekolah yang begitu menumpuk. Buku buku pelajaran
yang harus segera dibahas demi mengejar materi. Pulpen yang habis karena
terlalu banyak mencatat. Hati yang Lelah karena terlalu lama menunggu. Abaikan
poin yang terakhir. Pikiranku mulai kacau karenamu.
Dari temanku aku mengetahui hubungan mu dengannya
sudah lama berakhir. Dan selama itu lah kamu ternyata sudah menyukai perempuan
lain. Menurutku tipe wajahnya mirip dengan kekasih mu yang lalu itu. Tapi berbeda
dengan yang lalu. Kali ini kalian hanya menjalin hubungan tanpa arah yang entah
akan berlanjut kemana.
Jujur. Aku sempat uring-uringan mendengar kabar itu.
Tapi,
Mau bagaimana lagi?
Aku kan bukan siapa – siapa mu.
Komentar
Posting Komentar