k a m u - 3


#3

Kamu tahu, bahwa selama apapun aku memendamnya, nyatanya rasa itu masih tetap ada. Perasaan bergejolak ketika mata kita bertemu. Perasaan hangat ketika mendengar tawamu dari jauh. Perasaan sesak di malam hari ketika hatiku begitu merindukanmu. Perasaan-perasaan itu masih ada dan tetap menetap disana. Termasuk rasa sakit ketika kamu yang kucintai kian menjauh ketika tahu tentang perasaanku.

 Jadi seperti ini  rasanya,

Sakit karena cinta.

Begitu pikirku waktu itu. Tapi bukannya berhenti, bodohnya aku karena perasaanku yang sudah terlanjur tertangkap basah, aku malah semakin gencar menunjukkan rasa sukaku itu. Aku selalu menunjukkannya tanpa ragu. Tanpa berpikir terlebih dahulu hingga mungkin kamu semakin risih dan semakin menjauh hingga tak terjangkau oleh hatiku.

Dan lihat apa yang terjadi pada ku sekarang. Tidak ada yang tersisa untukku selain kenangan kenanganku akan kamu. Tidak ada lagi yang tersisa untukku selain perasaanku yang sudah memenuhi diriku hingga sedemikian sesak. Tapi sesakit apapun aku karenamu, aku tidak pernah menyesal atas perasaanku yang mencintaimu.

Hari-hariku yang selanjutnya hanyalah berisi tentang aku yang menunggu kabarmu dari orang lain. Entah itu teman sekelasmu, atau mungkin teman-temanku. Kamu menjauhiku sebegitunya hingga bermain ke kelasku pun kamu tak mau. Kamu menjauhiku sebegitunya hingga berteman di media sosialpun kamu tak mau. Meskipun begitu, hatiku sebesar itu merindukanmu hingga setiap waktu senggangku kugunakan untuk mengingatmu.

Anggap saja aku psikopatmu.

Hahaha.

Jika kuingat lagi dulu kamu memang sering sekali memanggilku begitu. Aku si psikopatmu. Entah kamu memang tidak tahu arti psikopat yang sebenarnya, atau memang keberadaanku di sekitarmu membuatmu merasa terancam hingga sedemikian rupa, aku tak tahu. Aku hanya begitu senang karena kamu memiliki julukan khusus untuk diriku. Meskipun julukan itu sama sekali tidak terdengar ramah di telingaku.

Kala itu kita berdua sudah sama-sama ada di tingkat kedua sekolah menengah pertama. Aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur atau kecewa karena kita tidak berada di kelas yang sama. Apakah aku harus bersyukur karena dengan aku jauh darimu kamu bisa lebih bahagia atau aku harus kecewa karena dengan aku jauh darimu aku jadi semakin menderita. Aku tak tahu.

Waktu itu aku punya hobi baru mengumpulkan apa saja tentangmu. Apa saja tidak masalah bagiku. Setiap benda itu memiliki ceritanya sendiri untukku. Membantuku untuk megingatmu ketika aku sudah dewasa nanti bahwa aku pernah mencintai sosok seperti kamu di dalam hidupku. Lagi kukatakan, aku tidak pernah menyesal mencintaimu hingga aku ingin terus mengingatmu di setiap hariku yang akan datang.

Semuanya berlalu begitu cepat. Masa-masa tingkat keduaku yang tidak terlalu berkesan terlewat begitu saja tanpa ada banyak yang bisa kuingat, selain kamu dan perempuan itu yang sudah semakin dekat. Kamu dan perempuan yang ternyata adalah teman masa SD ku itu.

Kenyataan itu menyaktiku,


Lagi-lagi kamu menyakitiku,


Dan aku masih saja tidak menyesal mencintaimu.

Komentar